Kamis, 03 Juli 2014

Putri dan Ksatria

Selamat malam, perindu-perindu Ksatria

Di malam ini marilah kita bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Karena sejatinya, manusia tidaklah akan menjadi suatu apapun tanpa kehendak Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Salam terbaik aku tuturkan kepada siapapun yang senang hati singgah di blog ini. Aku bukanlah orang yang pandai berkata-kata, pun aku menulis sebab inilah caraku menumpahkan segala emosi yang ada di dada. Jadi, terima kasih untuk siapa-siapa yang telah turut mendengarkan ceritaku dari halaman sederhana ini J

Tulisan ini secara khusus aku tujukan kepada ksatria terbaikku dan ksatria-ksatria lain yang sedang berjuang di medan sana. Tidak lupa untuk putri-putri ksatria seperjuanganku yang masih tegar bertahan dalam penantian.

Apa kabar ?

Aku sedang berpikir tentang banyak hal seperti penantian, masa depan, karier, pernikahan mungkin? Entahlah. Kini aku mulai memasuki masa semester lima, begitupun ksatriaku. Terkadang jika jiwa dan raga ini sudah penat sekali akan rutinitas duniawi, aku mulai memikirkan bagaimana masa depan. Tetapi kalau membicarakan masa depan, kurasa masih cukup jauh perjalanan yang harus dilalui. Namun, tidakkah kita masih percaya?

Percaya bahwa suatu hari masa pendidikan formal ini akan berakhir. Meskipun setelah pendidikan, tetap akan ada peperangan dan tidak ada jedanya, sama sekali.
Percaya bahwa semua akan indah pada waktunya.

Ya, semua akan indah pada waktunya. Hanya saja terkadang ego manusia berbicara. Padahal ego biasanya hanya akan membawa kita pada kegelisahan.
Misalnya?

Di suatu malam aku pernah hanya termenung memandang langit-langit kamar, ditemani kurcaci-kurcaci kecil yang selalu setia menemani saat Ksatria ku pergi. Terlintas di pikiranku,

“sampai kapan kita terpisah seperti ini?”

“akankah kita akan berakhir bahagia, Sayang?”

“apakah kamu untukku?”

Dan segala jenis pertanyaan yang sama, tentang hubungan jarak jauh ini. Bahkan ini lebih dari sekadar hubungan jarak jauh alias LDR kan? Bukan aku bersikap macam aku paling sakit dalam menghadapi ini. Namun aku hanyalah wanita. Pilihanku terbatas, dan tidak pernah mudah. Pun itu bukan berarti aku lelah dalam penantian ini, Sayang. Tidak.

Karena aku yakin padamu.

Kurasa itu sudah menjawab semua pertanyaan yang ada. Aku yakin kamu menyayangiku, sama seperti aku menyayangimu. Aku yakin kamu tidak akan pernah menyerah akan segala yang kamu perjuangkan disana. Aku yakin kamu dapat menjaga kepercayaan yang kuberikan kepadamu. Aku yakin Tuhan punya satu hari yang indah untuk kita bersama-sama lagi.

Dan aku takkan ragu. Sebab aku yakin, Ksatria terbaik tidak akan ingkar dan akan selalu setia. Baik itu kepada tugas, ibunda dan ayahanda tercinta, serta putri yang bertahta atas hati mereka.

Sebab aku yakin, Tuhan mempertemukan kita sekalian atas sebuah alasan. Alasan yang masih kita cari tahu apakah sebenarnya itu. Apakah untuk merasakan bagaimana berjuang bersama kini dan nanti, ataukah hanya sebatas singgah lalu pergi? Apapun itu, jangan sia-siakan waktu kita sekarang. Jadilah yang terbaik di waktu tersebut. Jadikan selalu penantian ini sebagai tali-tali harapan kita, doa-doa kita. Kelak jika pahitnya mungkin belum berjodoh, kita akan benar-benar mengerti bagaimana rasanya berjuang dalam suka dan duka. Tidak ada yang sia-sia. Karena Tuhan yang mempertemukan.

Entahlah.. terkadang aku masih belum bisa benar-benar memahami apakah yang kutulis ini bermakna atau tidak. Aku hanya ingin mendamaikan hati.

Hati. Damai. Menanti.

Terakhir...

Salam hormat teruntuk Ksatria yang kini telah siap lepas landas menuju tempat meniti karier selanjutnya. Selamat atas kelulusan nya dari pendidikan, atas gelar IPDA, S.IK maupun ST.Han. Semoga dilancarkan cita dan cintanya. Aamiin. We proud of you!


Satu lagi, untuk Ksatriaku terkasih. Semoga selalu berada di dalam lindungan-Nya. Semoga dilancarkan segala urusannya. Aku masih menanti mu disini, kala engkau pergi untuk negara.. Namun aku percaya, kamu akan selalu pulang untuk cinta. Sampai jumpa lagi, Sayang.


Kamis, 12 Juni 2014

Untuk Bulan

Untuk Bulan

Bulan, apakah kau memikirkan diriku?
Diriku, yang telah lama pergi jauh
Kau tahu Bulan? Disini sangat berbeda tanpamu
Banyak masalah terus datang menyerangku
Andai kau masih disampingku Bulan
Kuingin selalu
Ingin sekali bersandar di bahumu
Ingin aku beristirahat sejenak, melepaskan kepenatan yang kurasakan
Disini, ditempat pencarian jati diri dan masa depanku

Kuingin bercerita, tertawa, ataupun menangis
Kuingin disampingmu lagi
Namun tak bisa
Ku amat merindukan mu Bulan
Jarak ini amat menyiksaku
Terkadang aku merasa semua ini hanya mimpi
Dan aku berharap ada yang membangunkanku dari mimpi ini.
Tetapi ini nyata
Dan kusadari, ini pilihanku
Pilihan untuk berada disini
Berada jauh dari dirimu Bulan...

Ku selalu berdoa agar tetap tegar, tetap kuat, dan tetap percaya padamu
Meski disana kau mungkin dekat dengan bintang yang lain
Karena ku yakin, kau mencintaiku..
Seperti diriku padamu, Bulan.

          Ku selalu berdoa
          Agar kita dapat saling mengingatkan di kala bahagia
          Agar kita dapat saling menguatkan di kala duka
          Agar cinta kita indah pada waktunya


2016.. PRASPA ku dan Wisudamu !!

A Love Letter from You

Untuk pacarku tersayang, Diego’s Tuti Adi Ningsih

Hai sayang..

Akhirnya aku menulis surat lagi untukmu. Aku bingung memikirkan apa yang seharusnya kuberikan untukmu di hari anniv kita yang ke 2 tahun 3 bulan. Maaf aku tidak bisa memberikanmu bunga, karena tidak mungkin bagiku untuk membeli bunga dan aku paketin ke Bandung. Lagipula aku tidak tahu tempat antar paket di Semarang ada dimana sehingga aku hanya bisa menulis di kertas ini. Surat tentang kita. Tentang perjalanan cinta kita agar kau dan aku tahu, cinta kita memang patut diperjuangkan. Cinta kita layak dipertahankan.

Hmm.. kau tahu, 2 tahun 3 bulan itu waktu yang sangat. Namun kalau dipikir-pikir, waktu kita bersama hanya sebentar. Ya, kamu tahu. Setelah kita lulus SMA, aku masuk AKPOL dan kamu ITB. Bandung – Semarang. Kalau aku masuk universitas mungkin kita masih bisa sering smsan, tlpan atau ketemuan di hari sabtu-minggu. Namun disinilah aku, di AKPOL, Akademi Kepolisian. Dimana peraturan tak memperbolehkan kami membawa alat komunikasi. Hanya sabtu dan minggu, itu pun jika ada pesiar.

         Saat SMA dulu seberapa sering ya kita ketemu? Senin – Jum’at dan Sabtu. Haha. Dulu apa pernah terbesit dalam otakmu kau bosan denganku? Kita sangat sering bertemu, kita satu kelas dari kelas 2 SMA. Sebelum kita pacaran, kita hanya sahabat. Kau yang sangat pintar dan aku yang bodoh di kelas. Namun entah kapan dan bagaimana caranya kita bisa dekat..
     
    Mungkin semua berawal aku yang menjadi teman curhatmu. Tiap tawamu, senyummu, dan bicaramu selalu menarik perhatianku. Aku selalu ingin bersama denganmu. Namun tiap kekecewaanmu, sedihmu, dan tangismu.. itu membuat hati ini teriris-iris, itulah mungkin kenapa aku ingin selalu buatmu tersenyum. Ingin menghapus rasa sakit dan galaumu terhadap DIA.
          Tiap malam aku berusaha menahan kantukku untuk menemanimu hingga tertidur. Mendengarkan segala kekesalan, kemarahan, kerinduan dirimu terhadap dirinya. Hampir atau mungkin setiap hari pasti kamu galau karena dirinya. Dan di setiap itu pula aku berusaha untuk menenangkan dirimu. Aku berusaha selalu bangun layaknya radio-mu saat itu, agar kamu tidak merasa sendirian.

          Setelah kita jadian juga banyak angin yang menerpa kita. Tapi bisa kita lewati bukan? Sekaranglah puncak dari semua itu. Dari cinta masa SMA menuju cinta selamanya...

          Memang banyak yang gagal dalam hubungan jarak jauh. Tapi aku mohon untuk tetap kuat. Aku yakin kita bisa baik-baik saja. Aku pasti kembali. Aku untukmu. Kita akan bersama lagi.

          Namun tetap saja semua pasti ada titik jenuhnya ya... Terkadang aku sangat merasa kesepian disini. Teramat sangat. Ketika teman disini menjauhiku, ketika masalah terus datang, ketika situasi buruk silih berganti.. aku sangat berharap kamu ada disini. Berharap kamu bisa menemaniku, seperti dulu. Paling tidak, aku bisa menyenderkan kepalaku di pundakmu. Sebentar saja...

          Aku sudah berapa kali bilang ya, kamu seperti bulan? Jauh disana, indah menerangi malam-malamku. Permohonan konyolku pada Tuhan agar bisa meraih bulan... seperti meminta dirimu berada disisiku sekarang. Terlalu egois memang namun kuakui aku sangat membutuhkan dirimu saat ini. Aku rindu saat kita bersama. Tawa kita. Sedih yang kita bagi. Semua tentang kita.

          Tak pernah terpikir olehku kita akan terpisah sejauh ini. Aku pun terkadang bingung, kita sudah pacaran lama atau baru sebentar. Kita hanya bertemu saat IBL dan cuti. Selain waktu itu, kita tidak pernah bertemu. Aku tidak tahu kamu dimana, sedang bersama siapa. Apa mungkin kamu sedang dekat dengan seseorang...aku tidak tahu. Hanya rasa percaya dan kesetiaan satu sama lain yang membuat cinta kita bertahan.

          Tetapi aku yakin. Jarak ini, waktu ini... dan segala keterbatasan yang ada adalah pembelajaran. Agar kita menghargai waktu. Menghargai jauh jaraknya itu. Memanfaatkan apapun dibalik keterbatasan itu.

          Dan pada waktunya nanti..saat kita bersama, kita telah menjadi orang yang hebat. Orang yang kuat, bukan seperti anak kecil pada SMA dulu. Saat waktu itu datang, kita sudah siap untuk menaklukkan dunia bersama tanpa bantuan orangtua kita lagi.

          Memang benar bukan pepatah, “Semua indah pada waktunya” ?

          I love you, Diego’s

          05 – 01 – 2012

Jumat, 18 April 2014

Semarang, Aku Gagal Menemuimu

Selamat pagi, Bandung.

Angin dingin mu masih membekukan jiwa dan hati.

Aku hanya ingin menorehkan beberapa kata, tentang beberapa hal yang sedang membuatku.. sedih?

Jadi ceritanya, sang Taruna kesayanganku, pemain alat terompet, akan tampil di sebuah acara di semarang.. tampil PERDANA. Waktu aku diberitahu bulan lalu, aku berjanji padanya bila tidak terhalang acara lain yang lebih urgent atau ada ujian, aku akan pergi kesana untuk menontonnya. Tetapi pada minggu berikutnya, sepupuku tersayang mampir ke Bandung dan ia membawa kabar bahagia, yaitu dia akan menikah ! bahagia aku mendengarnya.. dan dia memintaku untuk hadir dalam pernikahan nya, kalau bisa jadi pagar ayu. Nah tadinya aku ingin menolak jadi pagar ayu soalnya yaa you know lah nanti pasti bakal pakai konde pfft -_- tetapi karena memang sepupu2 ku yang lain sebagian besar laki-laki makanya akhirnya aku mengiyakan untuk menjadi pagar ayu. Masalah besar lainnya, dia belum punya tanggal pasti kapan pernikahannya terjadi, yang jelas bulan ini, Bulan April. Pada saat itu, yaudah kupikir aku sudah punya 2 rencana besar di bulan ini. Tanpa pernah terbesit dipikiranku bagaimana bila kedua acara tersebut berlangsung pada tanggal yang sama.

Ya, pernikahannya akan berlangsung pada tanggal yang sama saat kekasihku tampil di semarang nanti :’) aku harus apa? Ada kah yang bisa membuatku berada di dalam dua tempat dalam satu waktu?

Aku sedih.

Aku tau keluarga tidak bisa di pertaruhkan dengan pacar. Hanya saja, semua orang membicarakan penampilan DC di semarang nanti like everytime i’m crazy instead trying to catch my breath because.. because i really wish i could go.

Karena itu penampilan perdananya. Aku sudah membayangkan akan berlari-lari kecil mengiringinya yang sedang melantunkan nada-nada lagu Taruna atau my lecon atau entah lagu apa saja yang mereka mainkan nanti. Aku ingin dia tahu, aku ada untuknya. Aku ingin dia merasa, semua orang ingin datang untuk melihatnya.

Diapun menyayangkan sekali ketika aku bilang, aku tidak bisa datang. Dan hal ini seperti di ungkit berlarut2 padahal sudah kubilang, taruhan nya adalah keluarga.. dalam hati aku bertanya “will you do the same for me?”  pertanyaan tersebut bukan berarti aku pamrih. Itu hanya gambaran bagaimana bila dia berada dalam posisiku. Kita tidak boleh egois, Sayang. kamu tahu itu kan?

Dan yang membuatku semakin sedih adalah... ibu mu sampai dua kali bertanya padaku, Sayang. mau kah aku ikut bersamanya menemuimu? Aku ingin sekali. Itu jawaban jujur. Hanya saja, mbah putriku akan datang dan beliau pasti marah jika aku tidak datang. Dan akupun akan mengecewakan sepupuku sebab kami dekat. Maaf kan aku..

Salahkan saja waktu yang tidak tepat ini. mungkin belum saatnya, ya?

Aku makin sedih karena ternyata sepupuku akan menjemputku hari ini, bukan besok. Padahal nanti malam ada konser Kahitna yang dari dulu aku sangat ingin hadiri.

Ah, yasudah. Mungkin dewi fortuna sedang tidak berpihak padaku.

Aku hanya ingin berpesan padamu, Sayang. Tunggu aku di ujung jalan sana ketika kamu tampil lagi. Semangat terus latihan terompet nya. Aku tahu kamu pasti bisa ! harus kece karena mama sudah mau datang jauh2 Cuma buat liat kamu tampil ! semoga suatu saat nanti terpilih menjadi kandidat untuk main di Australia ya, Sayang.



Doaku menyertaimu selalu.

Minggu, 06 April 2014

Senandung Senja

Selamat malam, para pemilik hati

Sesungguhnya banyak hari ingin kuhabiskan untuk bercerita. Namun kehidupanku kini berjalan seperti.. apa ya? Berlalu begitu cepat, tenggelam dalam tumpukan kertas-kertas, hal-hal berbau laboratorium... Ah, yasudahlah. Jenuh? Sepertinya begitu. Tetapi bagaimana pun bentuknya aku sekarang, aku harus tetap melakukan apa yang seharusnya kulakukan

Malam ini, Bandung masih seperti biasanya. Menyelimutiku dengan nafasnya yang dingin. Beku. Setidaknya, ada sentuhan hangat di senjaku hari ini.

Sentuhan hangat itu suaramu, pemilik hatiku

Yang suaranya tak kudengar sejak seminggu kemarin

Yang wajahnya kujumpai terakhir di pintu masuk keberangkatan pesawat di bandara.

Yang senyumnya menghiasi satu hariku di Jakarta.

Yang sosoknya selalu di rindu....

Rindu, rindu. Tidak akan pernah habis lembaran cerita tentang rindu

“Bila kuingat senyum manismu, takkan habis waktu melamun. Bila kuingat canda tawamu, takkan habis waktu berangan. Ingin kumiliki, hari selamanya, berdua denganmu.. selamanya. Semoga bukan angan yang kelamaan.. Bila kuingat janji manismu, kutunggu sampai malam meninggalkanku. Semoga bukan angan yang kelamaan...”

Kau ingat? Itu senandung kita...

Aku sebenarnya tidak tahu kemana arah semua kata-kata ini. aku hanya, merindukanmu.

Bukan karena ini hari jadi kita, bukan.. memang sepertinya rasa rindu ini tiada pernah habis. Memang tidak akan pernah benar-benar terbayar bukan? Hanya saja, itu bagaimana cara kita menyikapinya. Bagaimana kita belajar untuk selalu bersyukur, dan memaknai apa yang bisa kita dapat. karena tidak semua bisa mendapatkan apa yang kita dapat. itu yang akhirnya kusadari. aku cukup beruntung bisa memilikimu sehari, mengingat banyak para pejuang rindu yang tidak dapat mengikis rindunya bersama kekasih tercinta..

Berbicara tentang pertemuan.. ingat perdebatan kita?

Kamu bilang, aku tidak perlu pulang dan mengorbankan waktu ku untukmu karena banyak pekerjaanku yang belum terselesaikan.

Aku tidak sependapat denganmu, Sayang. Aku mengerti maksudmu... hanya saja, aku memiliki pendapat sendiri.

Kembali ke rindu. Dia lah penyebab aku sangat ingin bertemu denganmu. Karena... kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu lagi, bukan? Aku tahu dunia tidak akan berakhir bila kita tidak bertemu. Namun aku butuh melihatmu. Aku butuh... hidup kembali. Oke, mungkin ini terdengar berlebihan. Namun begitulah adanya. Mengerti maksudku?

Aku butuh kamu. Aku butuh melihat senyummu lagi. Aku butuh genggaman tanganmu.. meskipun sekejap saja. Tak apa... meskipun itu berarti aku harus menempuh ratusan kilometer lagi, tak apa. Tak rindukah dirimu padaku, Sayang?

Aku rela waktu ku terbuang.. aku rela tugasku dinomorduakan... untuk kita :’)

Senyumku terkembang lebar di pagi aku pergi untuk menjemputmu. Rasanya masih seperti mimpi.. karena semuanya berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menjemputmu.. kamu berdiri di tepi jalan sana, lalu masuk ke dalam mobil. Lalu kamu tersenyum.. aku hanya bisa meleleh terpaku.

Tak terasa itu semua berlalu. Ketika aku harus melepasmu pergi lagi. Ketika tangan mu terakhir menjabat tanganku.. aku bahkan tak yakin bagaimana harus melukis ini semua. Terlalu menyakitkan kadang. Aku tahu aku tak boleh begini. Aku tahu tak seharusnya aku menjadi lemah seperti ini. aku harus kuat, ya. Aku harus kuat.
Aku harus kuat untukmu. Sama seperti halnya dirimu yang berjuang begitu kuat di balik tembok kesatrian sana. Dunia ini memang keras bukan? Tempaan ini. Yang harus bisa kita lalui.

Kita harus rela cinta kita berjarak demi cita-cita.. benar begitu kan, Sayang? Toh kalau Tuhan menciptakan dirimu untukku, maka dirimu hanya untukku.

Benarkah Tuhan menciptakanmu untukku?

Aku tidak tahu. Kamu tidak tahu.

Bahkan sebenarnya kita tidak bisa berbicara mengenai jodoh karena kita belum pantas untuk itu. Kita masih bukan siapa-siapa, kan?

Terkadang, aku tenggelam dalam diam. Apakah diriku pantas mendampingi seorang calon perwira?

Aku bukan siapa-siapa... aku belum menjadi siapa-siapa. Aku belum menjadi abdi orangtuaku. Aku belum menjadi teladan bagi adik-adikku.

Pantaskah aku?

Aku hanya punya cinta, untukmu. Apakah itu cukup?

Ibundamu berpesan... “Kamu belajar yang baik, kelak sukses. Kelak kalian berjodoh, kamu dapat restu ayah dan ibu. Ayah dan Ibu tidak peduli latar belakang orangtuamu, Sayang. Yang penting, kamu berjuang capai cita-citamu. Ibu turut bahagia jika memang adanya kalian saling menyayangi.  Kita tidak hidup di zaman Siti Nurbaya. Pun insya Allah anak tahu pilihan yang ia buat untuk dirinya sendiri...”

Pantaskah aku, Sayang?

Pertanyaan itu akan terus membayangiku. Hingga saatnya nanti aku berdiri tegap, begitu pula denganmu. Kita harus berjuang, ya? Saling memantaskan diri...

Terima kasih untuk senja cerianya hari ini. Bagiku, waktu adalah suatu hal yang berharga untuk diberikan pada seseorang. Dan kamu memberikannya padaku, di senja ini. Meskipun dari jauh sana terdengar sarat rasa lelahmu, tawamu tetap meledak seperti biasa. Candamu tetap menggoda.. sikap manjamu tak berubah.. 

Terima kasih telah menyembuhkan rasa rindu ini sejenak.

Semoga Tuhan selalu melindungimu.. Semoga ujianmu dilancarkan oleh-Nya. Belajar yang baik, ya? Doaku menyertaimu selalu.


Aku menyayangimu. Selamat malam :*

Minggu, 30 Maret 2014

Ketika Kamu Tak Ada

Ketika kamu tak ada....

ketika kamu tak ada, diriku sendiri..
sendiri dalam artian... sendiri, bukan berarti sepi. meskipun terkadang, memang sepi.

ketika kamu tak ada, aku lalui
siang, malam, hari, bulan...hanya memandangi lukisan wajahmu, di pikiranku.

ketika kamu tak ada, aku pahami
pahami bahwa jarak yang terbentang bukanlah sesuatu yang besar
tidak sebesar cinta kita

ketika kamu tak ada, aku belajar
untuk selalu mandiri, tanpamu. untuk selalu kuat, menerjang badai rindu. untuk selalu sabar, menantimu.

ketika kamu tak ada, aku lihat
pasangan-pasangan muda bergandengan tangan. aku selalu bertanya-tanya, kapankah kita berjumpa lagi.
aku tidak iri...
aku selalu mencoba tidak iri.. karena aku tahu, kita berbeda


ketika kamu tak ada, aku mengerti
bahwa semua akan indah pada waktunya..

ketika kamu tak ada....

ketika aku menatapmu berdiri di ambang pintuku lagi, setelah sekian lama.

ketika, ketika, dan ketika...
kita membicarakan tentang waktu. waktu lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang.
waktu kita
waktu...

aku tidak pernah tahu.... karena waktu adalah misteri.

yang bisa kita lakukan hanya menjalani,  memaknai dan bersyukur.

meskipun kamu tak ada, aku tahu, kamu selalu bersamaku. dalam doa. dalam rindu. dalam mimpi.




Sabtu, 15 Februari 2014

Hanya Untaian Kata

Selamat pagi, Sayang

di pagi ku yang sebenarnya banyak agenda ini, aku ingin menyempatkan untuk bercerita beberapa kisah, atau lebih tepatnya curhat.
Hari-hari ini agak berat untukku, karena sebuah kepanitiaan disini. Aku tidak ingin lemah. Hanya saja semua nya sedang tidak berjalan sesuai mauku.
Seperti sulit sekali mendapatkan nilai sempurna di tes seleksi praktikum. dan banyak hal lainnya. Aku ingin bercerita lagi disini, namun apa daya waktu ku sangat sempit.

Aku hanya ingin bilang, terima kasih karena di sela kesibukan mu, kamu masih membaca tulisanku, atau menuliskan beberapa kata di buku diarymu.. agar ketika pulang nanti kita bisa bertukar cerita. tentang hal-hal yang terlewati... terima kasih untuk motivasi hebatnya selama ini. Dan untuk percakapan di telpon sekian menit yang memang sekarang makin jarang terjadi. 

Aku merindukan mu, Sayang

Semoga kita selalu kuat dan bertahan hingga garis akhir. 

Tetap semangat menjalani hari, ya. Aku harap kamu baik-baik saja, disana. Aku mendoakan mu dari jauh sini.

Aku sayang padamu. Peluk untukmu, dari Bandung. yang jauhnya sekitar 450 kilometer darimu. Semoga jarak tidak melunturkan angan-angan kita untuk bersama lagi.