Kamis, 14 Agustus 2014

Hanya Saya

Hanya Saya

Selamat malam, siapapun anda dan dimana pun anda berada

Malam ini kiranya sudah sunyi, meski tentunya syukur masih dapat terdengar suara nafas orang-orang terkasih di sekitar kita sekarang.

Saya terpikir untuk menuliskan sesuatu tentang introspeksi diri atau sejenisnya, sebab hari ini telah terjadi sesuatu kepada saya, walaupun bisa saya katakan hal itu bukanlah apa-apa melainkan sekadar salam sapa dari anonim di akun ask.fm. Saya rasa akun itu kini kerap dijadikan sebagai ajang kepo – curhat – pamer – judge – dsb. Jika kalian memiliki akun web tsb mungkin kalian sudah sedikit banyak merasakan hal ini.

Atau pernah juga di judge semena-mena?

Anon yang entah siapa ini menyapa siang saya dengan kalimat 

“Dasar cewe sok eksis pacaran sama anak akpol aja di umbar umbar. Sok so an bgt. Biar klhtn keren gitu ya? Panggilan sejak dulu tuti aja, skrg so soan ganti jadi diego. Hahahaahaha”

Lalu selanjutnya anon itu berkata :


“Hahaha elo sampah , dasar cewe murahan lu . Munafik amat .. jijik lah”

Awalnya saya respon pertanyaan itu dengan nada bercanda. Sungguh, saya bukan bermaksud untuk mengelak ataupun sok lucu. Karena saya merasa benar dan pertanyaan anon tsb sangat mengada-ada menurut saya.

Namun daripada saya banyak bercakap seolah saya membenarkan diri, lebih baik saya mengenalkan diri (kembali) bagi kalian yang mungkin belum mengenal saya sedikit lebih jauh daripada sekadar pacar taruna saja.

Hai, nama saya Diego’s Tuti Adi Ningsih. Lahir di Jakarta, 21 Mei 1994. A blessed daughter and sister. Orangtua saya bukan siapa-siapa melainkan seorang wiraswasta dan ibu rumah tangga. Tetapi saya selalu bangga dan tidak malu, sebab orangtua saya adalah orangtua terhebat. Beliau mampu menghidupi kelima anaknya, kami semua bersekolah, tinggal di rumah dua tingkat separuh jadi yang cukup nyaman untuk berlindung dari dingin dan panas, cukup beruntung pernah merasakan naik mobil pribadi milik sendiri saat kami masih balita, dan tentunya kami bisa makan tiga kali sehari.

Ohya, anda bisa panggil saya apapun dari keempat kata nama lengkap saya. Saya tidak akan membatasi dan akan menghargai. Kalau boleh cerita, dari sejak kecil di keluarga saya memang akrab dipanggil Tuti, sebab banyak pihak keluarga yang menganggap nama Diego (apalagi Diego’s) terlalu tabu dan aneh untuk didengar sebagai nama anak perempuan. Saya sendiri jujur baru tahu nama saya Diego’s ketika menginjak kelas 2 SD dan saya pun cukup kaget. Namun karena sudah terbiasa dengan panggilan Tuti, saya pikir tidak perlu mengganti identitas diri begitu cepatnya. Lagipula, saya malas jika harus menceritakan arti ataupun sejarah nama saya itu kepada orang yang notabene nya asing dan hanya sekadar ingin tahu. Saya biarkan nama Diego’s tidak berkumandang selama beberapa tahun. Seperti yang saya katakan di akun ask.fm, saya mulai dikenal sebagai Diego’s ketika kelas 3 SMP. Saat itu saya mengenal banyak orang baru. Dua tahun sebelumnya saya berkecimpung di kelas unggulan, dan agaknya itu membuat saya introvert. Saya hanya berteman dengan anak yang itu-itu saja. Lalu akhirnya banyak teman baru yang saya jumpai ketika kelas 3 SMP di kelas reguler. Dan teman laki-laki saya banyak yang memanggil dengan nama Diego’s atau Diego, karena bagi mereka nama itu terdengar lebih akrab atau semacamnya. Yang jelas, bukan saya yang meminta. Ketika SMA lah akhirnya saya mengenalkan diri sebagai Diego’s. Bukan karena saya merasa nama itu keren, tetapi jujur ini lebih kepada saya ingin orang tidak terkejut ketika tahu nama asli saya setelah sebelumnya hanya mengenali Tuti saja (hal ini sering terjadi ketika SMP). Pun akhirnya dari Diego’s muncul panggilan baru lagi yakni egos, atau di. Didi muncul belum lama memang, baru sekitar tahun lalu.. tetapi bukan saya ini sok imut atau apa, itu awalnya hanya satu panggilan dari seorang teman yang kemudian saya anggap spesial dan jujur, terdengar lebih sedap di telinga. Jadilah saya mulai mengenalkan diri saya dengan nama Didi. Banyak rekan wanita taruna (rekanita) yang mengenal saya dengan nama itu. Yah, meski kini banyak nama panggilannya, saya tetap sedikit banyak menjadi diri sendiri dari waktu ke waktu. Dan saya adalah nama panggilan saya dari masa ke masa. Bukan saya berubah, tentu bukan.

Jadi tolong mbak atau mas yang baik hati, mungkin anda terlalu pintar dalam bertanya. Sebab ntuk menjawab pertanyaan anda mengenai nama panggilan saya setidaknya butuh 360 kata lho.

Saya kini kuliah di ITB, jurusan kimia, dengan status sebagai penerima beasiswa bidikmisi (beasiswa dari negara untuk anak yang lemah secara ekonomi), dan saya bercita-cita sebagai ilmuwan. Dan jika anda menganggap saya pintar karena pikiran sepintas anda ketika lihat title saya sebagai mahasiswa ITB, anda mungkin salah. Karena saya hanya beruntung dan selanjutnya saya masih harus berjuang keras menghadapi orang-orang yang jauh lebih pintar dari saya. Tetapi saya yakin, saya punya kesempatan untuk sukses dan menggapai cita-cita saya. Saya yakin itu.

Pacar saya taruna. Anda bisa baca kisah saya di blog ini, jika saja anda ingin tahu bagaimana kami berkelana dari waktu ke waktu. Bukan sekadar yang anda lihat dari akun ask.fm saya, lalu menilai bahwa saya begini dan begitu. Saya bangga dengan pacar saya, itu jelas. Tetapi sekali lagi itu bukan semata-mata karena ia adalah taruna akpol. Saya lebih menyanjung dia karena usaha dan perjuangannya menggapai cita-cita menjadi seorang polisi dan itulah jalannya. Dan saya adalah seorang pacar yang berbangga, karena saya melihat dia berjuang keras dari sejak mengenakan seragam putih abu-abu. Jujur, saya memutar otak ketika mba atau mas anon bercakap seolah saya menumpang nama atas pacar saya. Biar saya keren, anda kata. Saya tidak butuh dibilang keren atau apapun itu. Memangnya apa manfaat yang bisa saya dapat? Kalaupun saya ingin terkenal, saya selalu usaha atas nama saya sendiri, dengan jadi juara kelas, lomba, jadi anggota padus atau apapun itu, saya tidak akan menyalahgunakan title pacar saya sebagai taruna akpol.

Sedikit tentang respon mengenai pertanyaan pacar – junior – pacar saya, sejujurnya saya bingung. Ingin sekali kalau bisa tidak menjawab karena hanya takut salah dan sebenarnya pacar saya melarang saya untuk ini. Tetapi kalau tidak menjawab mungkin adik-adik manis ini akan menganggap saya sombong sebab saya adalah pacar – senior – pacarnya atau mungkin teman saya akan berpikir bahwa pacar taruna akpol cukup sombong untuk sekadar berkenalan. Ini akan menjadi kekeliruan yang sangat fatal menurut saya. Kasus yang sama terjadi pula karena saya cukup banyak kenal dengan rekanita lainnya. Namun memang ya, terlalu banyak orang sakit di dunia ini. Niat saya berkenalan dan berbagi dengan adik-adik manis serta teman-teman seperjuangan ini berujung pada penilaian bahwa saya sok tahu, sok eksis, sok mengetuai, dsb. Saya hanya bisa mengelus dada. Maka bisa anda lihat sekarang bahwa saya agak sungkan menjawab pertanyaan dengan “welcome” yang seperti biasa. Maaf untuk itu. (Anyway, see? This is how society influences your act)

Dan, maaf jika menurut anda saya terlalu mengumbar hubungan kami. Tetapi yang banyak saya lakukan hanya menulis di lembar ini dan menggunggah foto sehingga saya pribadi menganggap itu hal remeh temeh yang sudah mainstream dilakukan banyak pacar taruna maupun pacar orang biasa lainnya.  Dan memang remeh-temeh saja bukan? Jika anda sudah memiliki pacar, PASTI anda melakukan hal yang sama (jangan munafik!!). Pun perlu diketahui, saya telah mengurangi porsi update jejaring sosial jauh sekali daripada masa dahulu, mau itu tentang diri sendiri ataupun tentang saya dan pacar saya. Jangan macam paling tahu.

Hingga alinea terakhir ini saya jadi tertawa miris melihat perilaku munafik anda yang sebelumnya telah menilai saya munafik terlebih dahulu tanpa mengetahui apapun tentang saya. Anda iri ya? Hahaha

Ah, peribahasa memang benar. Sehijau apapun rumputmu, rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau.

Tetapi untuk apa memaknai peribahasa yang jelas-jelas membuatmu berpenyakit hati? Hidup ini terlalu sakit untuk dijalani dengan normal apalagi jika berpenyakit hati. Pesan saya, bebaskanlah diri. Syukurilah apapun yang Tuhan berikan kepada anda, janganlah anda dustakan dan sia-siakan karunia yang Dia berikan dengan murah hati. Iri dan dengki tidak akan menyelesaikan masalah kehidupan anda, malah justru akan memperlihatkan kekurangan dan keburukan anda kepada orang lain. Padahal menurut saya, tidak perlu lah menampakkan kekurangan ataupun kesedihan kita pada orang lain. Karena tidak akan ada yang benar-benar peduli selain keluarga atau sahabat. Tidak akan ada yang lebih peduli dari Tuhan. Jadi buat apa? Lain kali anda akan berbuat ini lagi, tolong pikirkanlah.

Pikirkanlah, bahwa dengan kata-kata menusuk itu, anda bukan akan memperjelek citra saya di mata orang lain melainkan anda sendiri. Sekalipun followers saya tidak tahu siapa anda. Sekalipun anda tidak membaca tulisan ini dan selamanya tidak tahu siapa sebenarnya saya. Anda tetap telah memperburuk diri anda melalui saya. Dan saya mungkin berdosa untuk itu, atau berdosa karena saya menjadi dengki setelah membaca perkataan anda terhadap saya. Sekali lagi, tolong. Berbaik hatilah untuk diri anda sendiri. Bukan untuk saya. Meski saya rasa, saya telah berbaik hati pada anda. Padahal, saya ingat perkataan (lebih tepatnya saran) seorang teman saya : 
" dont make ur high heels dirty for someone who deserves nothing but flip flops". Jadi terima kasih karena telah baik juga kepada saya meski dengan cara seperti yang anda lakukan siang tadi. Karena anda, saya berkaca malam ini.

This is just me, but don’t judge me before you know my stories.


Salam super dari Jakarta yang anginnya sedang enggan berbagi pada malam. Semoga hari anda menyenangkan esok hari^^


Kamis, 03 Juli 2014

Putri dan Ksatria

Selamat malam, perindu-perindu Ksatria

Di malam ini marilah kita bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Karena sejatinya, manusia tidaklah akan menjadi suatu apapun tanpa kehendak Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Salam terbaik aku tuturkan kepada siapapun yang senang hati singgah di blog ini. Aku bukanlah orang yang pandai berkata-kata, pun aku menulis sebab inilah caraku menumpahkan segala emosi yang ada di dada. Jadi, terima kasih untuk siapa-siapa yang telah turut mendengarkan ceritaku dari halaman sederhana ini J

Tulisan ini secara khusus aku tujukan kepada ksatria terbaikku dan ksatria-ksatria lain yang sedang berjuang di medan sana. Tidak lupa untuk putri-putri ksatria seperjuanganku yang masih tegar bertahan dalam penantian.

Apa kabar ?

Aku sedang berpikir tentang banyak hal seperti penantian, masa depan, karier, pernikahan mungkin? Entahlah. Kini aku mulai memasuki masa semester lima, begitupun ksatriaku. Terkadang jika jiwa dan raga ini sudah penat sekali akan rutinitas duniawi, aku mulai memikirkan bagaimana masa depan. Tetapi kalau membicarakan masa depan, kurasa masih cukup jauh perjalanan yang harus dilalui. Namun, tidakkah kita masih percaya?

Percaya bahwa suatu hari masa pendidikan formal ini akan berakhir. Meskipun setelah pendidikan, tetap akan ada peperangan dan tidak ada jedanya, sama sekali.
Percaya bahwa semua akan indah pada waktunya.

Ya, semua akan indah pada waktunya. Hanya saja terkadang ego manusia berbicara. Padahal ego biasanya hanya akan membawa kita pada kegelisahan.
Misalnya?

Di suatu malam aku pernah hanya termenung memandang langit-langit kamar, ditemani kurcaci-kurcaci kecil yang selalu setia menemani saat Ksatria ku pergi. Terlintas di pikiranku,

“sampai kapan kita terpisah seperti ini?”

“akankah kita akan berakhir bahagia, Sayang?”

“apakah kamu untukku?”

Dan segala jenis pertanyaan yang sama, tentang hubungan jarak jauh ini. Bahkan ini lebih dari sekadar hubungan jarak jauh alias LDR kan? Bukan aku bersikap macam aku paling sakit dalam menghadapi ini. Namun aku hanyalah wanita. Pilihanku terbatas, dan tidak pernah mudah. Pun itu bukan berarti aku lelah dalam penantian ini, Sayang. Tidak.

Karena aku yakin padamu.

Kurasa itu sudah menjawab semua pertanyaan yang ada. Aku yakin kamu menyayangiku, sama seperti aku menyayangimu. Aku yakin kamu tidak akan pernah menyerah akan segala yang kamu perjuangkan disana. Aku yakin kamu dapat menjaga kepercayaan yang kuberikan kepadamu. Aku yakin Tuhan punya satu hari yang indah untuk kita bersama-sama lagi.

Dan aku takkan ragu. Sebab aku yakin, Ksatria terbaik tidak akan ingkar dan akan selalu setia. Baik itu kepada tugas, ibunda dan ayahanda tercinta, serta putri yang bertahta atas hati mereka.

Sebab aku yakin, Tuhan mempertemukan kita sekalian atas sebuah alasan. Alasan yang masih kita cari tahu apakah sebenarnya itu. Apakah untuk merasakan bagaimana berjuang bersama kini dan nanti, ataukah hanya sebatas singgah lalu pergi? Apapun itu, jangan sia-siakan waktu kita sekarang. Jadilah yang terbaik di waktu tersebut. Jadikan selalu penantian ini sebagai tali-tali harapan kita, doa-doa kita. Kelak jika pahitnya mungkin belum berjodoh, kita akan benar-benar mengerti bagaimana rasanya berjuang dalam suka dan duka. Tidak ada yang sia-sia. Karena Tuhan yang mempertemukan.

Entahlah.. terkadang aku masih belum bisa benar-benar memahami apakah yang kutulis ini bermakna atau tidak. Aku hanya ingin mendamaikan hati.

Hati. Damai. Menanti.

Terakhir...

Salam hormat teruntuk Ksatria yang kini telah siap lepas landas menuju tempat meniti karier selanjutnya. Selamat atas kelulusan nya dari pendidikan, atas gelar IPDA, S.IK maupun ST.Han. Semoga dilancarkan cita dan cintanya. Aamiin. We proud of you!


Satu lagi, untuk Ksatriaku terkasih. Semoga selalu berada di dalam lindungan-Nya. Semoga dilancarkan segala urusannya. Aku masih menanti mu disini, kala engkau pergi untuk negara.. Namun aku percaya, kamu akan selalu pulang untuk cinta. Sampai jumpa lagi, Sayang.


Kamis, 12 Juni 2014

Untuk Bulan

Untuk Bulan

Bulan, apakah kau memikirkan diriku?
Diriku, yang telah lama pergi jauh
Kau tahu Bulan? Disini sangat berbeda tanpamu
Banyak masalah terus datang menyerangku
Andai kau masih disampingku Bulan
Kuingin selalu
Ingin sekali bersandar di bahumu
Ingin aku beristirahat sejenak, melepaskan kepenatan yang kurasakan
Disini, ditempat pencarian jati diri dan masa depanku

Kuingin bercerita, tertawa, ataupun menangis
Kuingin disampingmu lagi
Namun tak bisa
Ku amat merindukan mu Bulan
Jarak ini amat menyiksaku
Terkadang aku merasa semua ini hanya mimpi
Dan aku berharap ada yang membangunkanku dari mimpi ini.
Tetapi ini nyata
Dan kusadari, ini pilihanku
Pilihan untuk berada disini
Berada jauh dari dirimu Bulan...

Ku selalu berdoa agar tetap tegar, tetap kuat, dan tetap percaya padamu
Meski disana kau mungkin dekat dengan bintang yang lain
Karena ku yakin, kau mencintaiku..
Seperti diriku padamu, Bulan.

          Ku selalu berdoa
          Agar kita dapat saling mengingatkan di kala bahagia
          Agar kita dapat saling menguatkan di kala duka
          Agar cinta kita indah pada waktunya


2016.. PRASPA ku dan Wisudamu !!

A Love Letter from You

Untuk pacarku tersayang, Diego’s Tuti Adi Ningsih

Hai sayang..

Akhirnya aku menulis surat lagi untukmu. Aku bingung memikirkan apa yang seharusnya kuberikan untukmu di hari anniv kita yang ke 2 tahun 3 bulan. Maaf aku tidak bisa memberikanmu bunga, karena tidak mungkin bagiku untuk membeli bunga dan aku paketin ke Bandung. Lagipula aku tidak tahu tempat antar paket di Semarang ada dimana sehingga aku hanya bisa menulis di kertas ini. Surat tentang kita. Tentang perjalanan cinta kita agar kau dan aku tahu, cinta kita memang patut diperjuangkan. Cinta kita layak dipertahankan.

Hmm.. kau tahu, 2 tahun 3 bulan itu waktu yang sangat. Namun kalau dipikir-pikir, waktu kita bersama hanya sebentar. Ya, kamu tahu. Setelah kita lulus SMA, aku masuk AKPOL dan kamu ITB. Bandung – Semarang. Kalau aku masuk universitas mungkin kita masih bisa sering smsan, tlpan atau ketemuan di hari sabtu-minggu. Namun disinilah aku, di AKPOL, Akademi Kepolisian. Dimana peraturan tak memperbolehkan kami membawa alat komunikasi. Hanya sabtu dan minggu, itu pun jika ada pesiar.

         Saat SMA dulu seberapa sering ya kita ketemu? Senin – Jum’at dan Sabtu. Haha. Dulu apa pernah terbesit dalam otakmu kau bosan denganku? Kita sangat sering bertemu, kita satu kelas dari kelas 2 SMA. Sebelum kita pacaran, kita hanya sahabat. Kau yang sangat pintar dan aku yang bodoh di kelas. Namun entah kapan dan bagaimana caranya kita bisa dekat..
     
    Mungkin semua berawal aku yang menjadi teman curhatmu. Tiap tawamu, senyummu, dan bicaramu selalu menarik perhatianku. Aku selalu ingin bersama denganmu. Namun tiap kekecewaanmu, sedihmu, dan tangismu.. itu membuat hati ini teriris-iris, itulah mungkin kenapa aku ingin selalu buatmu tersenyum. Ingin menghapus rasa sakit dan galaumu terhadap DIA.
          Tiap malam aku berusaha menahan kantukku untuk menemanimu hingga tertidur. Mendengarkan segala kekesalan, kemarahan, kerinduan dirimu terhadap dirinya. Hampir atau mungkin setiap hari pasti kamu galau karena dirinya. Dan di setiap itu pula aku berusaha untuk menenangkan dirimu. Aku berusaha selalu bangun layaknya radio-mu saat itu, agar kamu tidak merasa sendirian.

          Setelah kita jadian juga banyak angin yang menerpa kita. Tapi bisa kita lewati bukan? Sekaranglah puncak dari semua itu. Dari cinta masa SMA menuju cinta selamanya...

          Memang banyak yang gagal dalam hubungan jarak jauh. Tapi aku mohon untuk tetap kuat. Aku yakin kita bisa baik-baik saja. Aku pasti kembali. Aku untukmu. Kita akan bersama lagi.

          Namun tetap saja semua pasti ada titik jenuhnya ya... Terkadang aku sangat merasa kesepian disini. Teramat sangat. Ketika teman disini menjauhiku, ketika masalah terus datang, ketika situasi buruk silih berganti.. aku sangat berharap kamu ada disini. Berharap kamu bisa menemaniku, seperti dulu. Paling tidak, aku bisa menyenderkan kepalaku di pundakmu. Sebentar saja...

          Aku sudah berapa kali bilang ya, kamu seperti bulan? Jauh disana, indah menerangi malam-malamku. Permohonan konyolku pada Tuhan agar bisa meraih bulan... seperti meminta dirimu berada disisiku sekarang. Terlalu egois memang namun kuakui aku sangat membutuhkan dirimu saat ini. Aku rindu saat kita bersama. Tawa kita. Sedih yang kita bagi. Semua tentang kita.

          Tak pernah terpikir olehku kita akan terpisah sejauh ini. Aku pun terkadang bingung, kita sudah pacaran lama atau baru sebentar. Kita hanya bertemu saat IBL dan cuti. Selain waktu itu, kita tidak pernah bertemu. Aku tidak tahu kamu dimana, sedang bersama siapa. Apa mungkin kamu sedang dekat dengan seseorang...aku tidak tahu. Hanya rasa percaya dan kesetiaan satu sama lain yang membuat cinta kita bertahan.

          Tetapi aku yakin. Jarak ini, waktu ini... dan segala keterbatasan yang ada adalah pembelajaran. Agar kita menghargai waktu. Menghargai jauh jaraknya itu. Memanfaatkan apapun dibalik keterbatasan itu.

          Dan pada waktunya nanti..saat kita bersama, kita telah menjadi orang yang hebat. Orang yang kuat, bukan seperti anak kecil pada SMA dulu. Saat waktu itu datang, kita sudah siap untuk menaklukkan dunia bersama tanpa bantuan orangtua kita lagi.

          Memang benar bukan pepatah, “Semua indah pada waktunya” ?

          I love you, Diego’s

          05 – 01 – 2012

Jumat, 18 April 2014

Semarang, Aku Gagal Menemuimu

Selamat pagi, Bandung.

Angin dingin mu masih membekukan jiwa dan hati.

Aku hanya ingin menorehkan beberapa kata, tentang beberapa hal yang sedang membuatku.. sedih?

Jadi ceritanya, sang Taruna kesayanganku, pemain alat terompet, akan tampil di sebuah acara di semarang.. tampil PERDANA. Waktu aku diberitahu bulan lalu, aku berjanji padanya bila tidak terhalang acara lain yang lebih urgent atau ada ujian, aku akan pergi kesana untuk menontonnya. Tetapi pada minggu berikutnya, sepupuku tersayang mampir ke Bandung dan ia membawa kabar bahagia, yaitu dia akan menikah ! bahagia aku mendengarnya.. dan dia memintaku untuk hadir dalam pernikahan nya, kalau bisa jadi pagar ayu. Nah tadinya aku ingin menolak jadi pagar ayu soalnya yaa you know lah nanti pasti bakal pakai konde pfft -_- tetapi karena memang sepupu2 ku yang lain sebagian besar laki-laki makanya akhirnya aku mengiyakan untuk menjadi pagar ayu. Masalah besar lainnya, dia belum punya tanggal pasti kapan pernikahannya terjadi, yang jelas bulan ini, Bulan April. Pada saat itu, yaudah kupikir aku sudah punya 2 rencana besar di bulan ini. Tanpa pernah terbesit dipikiranku bagaimana bila kedua acara tersebut berlangsung pada tanggal yang sama.

Ya, pernikahannya akan berlangsung pada tanggal yang sama saat kekasihku tampil di semarang nanti :’) aku harus apa? Ada kah yang bisa membuatku berada di dalam dua tempat dalam satu waktu?

Aku sedih.

Aku tau keluarga tidak bisa di pertaruhkan dengan pacar. Hanya saja, semua orang membicarakan penampilan DC di semarang nanti like everytime i’m crazy instead trying to catch my breath because.. because i really wish i could go.

Karena itu penampilan perdananya. Aku sudah membayangkan akan berlari-lari kecil mengiringinya yang sedang melantunkan nada-nada lagu Taruna atau my lecon atau entah lagu apa saja yang mereka mainkan nanti. Aku ingin dia tahu, aku ada untuknya. Aku ingin dia merasa, semua orang ingin datang untuk melihatnya.

Diapun menyayangkan sekali ketika aku bilang, aku tidak bisa datang. Dan hal ini seperti di ungkit berlarut2 padahal sudah kubilang, taruhan nya adalah keluarga.. dalam hati aku bertanya “will you do the same for me?”  pertanyaan tersebut bukan berarti aku pamrih. Itu hanya gambaran bagaimana bila dia berada dalam posisiku. Kita tidak boleh egois, Sayang. kamu tahu itu kan?

Dan yang membuatku semakin sedih adalah... ibu mu sampai dua kali bertanya padaku, Sayang. mau kah aku ikut bersamanya menemuimu? Aku ingin sekali. Itu jawaban jujur. Hanya saja, mbah putriku akan datang dan beliau pasti marah jika aku tidak datang. Dan akupun akan mengecewakan sepupuku sebab kami dekat. Maaf kan aku..

Salahkan saja waktu yang tidak tepat ini. mungkin belum saatnya, ya?

Aku makin sedih karena ternyata sepupuku akan menjemputku hari ini, bukan besok. Padahal nanti malam ada konser Kahitna yang dari dulu aku sangat ingin hadiri.

Ah, yasudah. Mungkin dewi fortuna sedang tidak berpihak padaku.

Aku hanya ingin berpesan padamu, Sayang. Tunggu aku di ujung jalan sana ketika kamu tampil lagi. Semangat terus latihan terompet nya. Aku tahu kamu pasti bisa ! harus kece karena mama sudah mau datang jauh2 Cuma buat liat kamu tampil ! semoga suatu saat nanti terpilih menjadi kandidat untuk main di Australia ya, Sayang.



Doaku menyertaimu selalu.

Minggu, 06 April 2014

Senandung Senja

Selamat malam, para pemilik hati

Sesungguhnya banyak hari ingin kuhabiskan untuk bercerita. Namun kehidupanku kini berjalan seperti.. apa ya? Berlalu begitu cepat, tenggelam dalam tumpukan kertas-kertas, hal-hal berbau laboratorium... Ah, yasudahlah. Jenuh? Sepertinya begitu. Tetapi bagaimana pun bentuknya aku sekarang, aku harus tetap melakukan apa yang seharusnya kulakukan

Malam ini, Bandung masih seperti biasanya. Menyelimutiku dengan nafasnya yang dingin. Beku. Setidaknya, ada sentuhan hangat di senjaku hari ini.

Sentuhan hangat itu suaramu, pemilik hatiku

Yang suaranya tak kudengar sejak seminggu kemarin

Yang wajahnya kujumpai terakhir di pintu masuk keberangkatan pesawat di bandara.

Yang senyumnya menghiasi satu hariku di Jakarta.

Yang sosoknya selalu di rindu....

Rindu, rindu. Tidak akan pernah habis lembaran cerita tentang rindu

“Bila kuingat senyum manismu, takkan habis waktu melamun. Bila kuingat canda tawamu, takkan habis waktu berangan. Ingin kumiliki, hari selamanya, berdua denganmu.. selamanya. Semoga bukan angan yang kelamaan.. Bila kuingat janji manismu, kutunggu sampai malam meninggalkanku. Semoga bukan angan yang kelamaan...”

Kau ingat? Itu senandung kita...

Aku sebenarnya tidak tahu kemana arah semua kata-kata ini. aku hanya, merindukanmu.

Bukan karena ini hari jadi kita, bukan.. memang sepertinya rasa rindu ini tiada pernah habis. Memang tidak akan pernah benar-benar terbayar bukan? Hanya saja, itu bagaimana cara kita menyikapinya. Bagaimana kita belajar untuk selalu bersyukur, dan memaknai apa yang bisa kita dapat. karena tidak semua bisa mendapatkan apa yang kita dapat. itu yang akhirnya kusadari. aku cukup beruntung bisa memilikimu sehari, mengingat banyak para pejuang rindu yang tidak dapat mengikis rindunya bersama kekasih tercinta..

Berbicara tentang pertemuan.. ingat perdebatan kita?

Kamu bilang, aku tidak perlu pulang dan mengorbankan waktu ku untukmu karena banyak pekerjaanku yang belum terselesaikan.

Aku tidak sependapat denganmu, Sayang. Aku mengerti maksudmu... hanya saja, aku memiliki pendapat sendiri.

Kembali ke rindu. Dia lah penyebab aku sangat ingin bertemu denganmu. Karena... kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu lagi, bukan? Aku tahu dunia tidak akan berakhir bila kita tidak bertemu. Namun aku butuh melihatmu. Aku butuh... hidup kembali. Oke, mungkin ini terdengar berlebihan. Namun begitulah adanya. Mengerti maksudku?

Aku butuh kamu. Aku butuh melihat senyummu lagi. Aku butuh genggaman tanganmu.. meskipun sekejap saja. Tak apa... meskipun itu berarti aku harus menempuh ratusan kilometer lagi, tak apa. Tak rindukah dirimu padaku, Sayang?

Aku rela waktu ku terbuang.. aku rela tugasku dinomorduakan... untuk kita :’)

Senyumku terkembang lebar di pagi aku pergi untuk menjemputmu. Rasanya masih seperti mimpi.. karena semuanya berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menjemputmu.. kamu berdiri di tepi jalan sana, lalu masuk ke dalam mobil. Lalu kamu tersenyum.. aku hanya bisa meleleh terpaku.

Tak terasa itu semua berlalu. Ketika aku harus melepasmu pergi lagi. Ketika tangan mu terakhir menjabat tanganku.. aku bahkan tak yakin bagaimana harus melukis ini semua. Terlalu menyakitkan kadang. Aku tahu aku tak boleh begini. Aku tahu tak seharusnya aku menjadi lemah seperti ini. aku harus kuat, ya. Aku harus kuat.
Aku harus kuat untukmu. Sama seperti halnya dirimu yang berjuang begitu kuat di balik tembok kesatrian sana. Dunia ini memang keras bukan? Tempaan ini. Yang harus bisa kita lalui.

Kita harus rela cinta kita berjarak demi cita-cita.. benar begitu kan, Sayang? Toh kalau Tuhan menciptakan dirimu untukku, maka dirimu hanya untukku.

Benarkah Tuhan menciptakanmu untukku?

Aku tidak tahu. Kamu tidak tahu.

Bahkan sebenarnya kita tidak bisa berbicara mengenai jodoh karena kita belum pantas untuk itu. Kita masih bukan siapa-siapa, kan?

Terkadang, aku tenggelam dalam diam. Apakah diriku pantas mendampingi seorang calon perwira?

Aku bukan siapa-siapa... aku belum menjadi siapa-siapa. Aku belum menjadi abdi orangtuaku. Aku belum menjadi teladan bagi adik-adikku.

Pantaskah aku?

Aku hanya punya cinta, untukmu. Apakah itu cukup?

Ibundamu berpesan... “Kamu belajar yang baik, kelak sukses. Kelak kalian berjodoh, kamu dapat restu ayah dan ibu. Ayah dan Ibu tidak peduli latar belakang orangtuamu, Sayang. Yang penting, kamu berjuang capai cita-citamu. Ibu turut bahagia jika memang adanya kalian saling menyayangi.  Kita tidak hidup di zaman Siti Nurbaya. Pun insya Allah anak tahu pilihan yang ia buat untuk dirinya sendiri...”

Pantaskah aku, Sayang?

Pertanyaan itu akan terus membayangiku. Hingga saatnya nanti aku berdiri tegap, begitu pula denganmu. Kita harus berjuang, ya? Saling memantaskan diri...

Terima kasih untuk senja cerianya hari ini. Bagiku, waktu adalah suatu hal yang berharga untuk diberikan pada seseorang. Dan kamu memberikannya padaku, di senja ini. Meskipun dari jauh sana terdengar sarat rasa lelahmu, tawamu tetap meledak seperti biasa. Candamu tetap menggoda.. sikap manjamu tak berubah.. 

Terima kasih telah menyembuhkan rasa rindu ini sejenak.

Semoga Tuhan selalu melindungimu.. Semoga ujianmu dilancarkan oleh-Nya. Belajar yang baik, ya? Doaku menyertaimu selalu.


Aku menyayangimu. Selamat malam :*

Minggu, 30 Maret 2014

Ketika Kamu Tak Ada

Ketika kamu tak ada....

ketika kamu tak ada, diriku sendiri..
sendiri dalam artian... sendiri, bukan berarti sepi. meskipun terkadang, memang sepi.

ketika kamu tak ada, aku lalui
siang, malam, hari, bulan...hanya memandangi lukisan wajahmu, di pikiranku.

ketika kamu tak ada, aku pahami
pahami bahwa jarak yang terbentang bukanlah sesuatu yang besar
tidak sebesar cinta kita

ketika kamu tak ada, aku belajar
untuk selalu mandiri, tanpamu. untuk selalu kuat, menerjang badai rindu. untuk selalu sabar, menantimu.

ketika kamu tak ada, aku lihat
pasangan-pasangan muda bergandengan tangan. aku selalu bertanya-tanya, kapankah kita berjumpa lagi.
aku tidak iri...
aku selalu mencoba tidak iri.. karena aku tahu, kita berbeda


ketika kamu tak ada, aku mengerti
bahwa semua akan indah pada waktunya..

ketika kamu tak ada....

ketika aku menatapmu berdiri di ambang pintuku lagi, setelah sekian lama.

ketika, ketika, dan ketika...
kita membicarakan tentang waktu. waktu lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang.
waktu kita
waktu...

aku tidak pernah tahu.... karena waktu adalah misteri.

yang bisa kita lakukan hanya menjalani,  memaknai dan bersyukur.

meskipun kamu tak ada, aku tahu, kamu selalu bersamaku. dalam doa. dalam rindu. dalam mimpi.